“Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” adalah salah
satu buah tulisan tangan yang diterbitkan pada tahun 1939 oleh Buya Hamka, seorang ulama, politikus, sekaliber sastrawan
Indonesia yang terkenal se-Nusantara. Karya-karya nya sangat diapresiasi oleh
khalayak, selain itu karyanya pun turut mengundang banyak kontroversi. Karena
pada tulisan tersebut Buya Hamka dituduh memplagiati sebuah karya dari novel Majdulin
karya Mustofa Lutfi al Manfaluti
(sastrawan Mesir), yang merupakan saduran dari novel Sous les Tilleuls
(‘Di Bawah Pohon Tilia’) karya Alphonse
Karr (sastrawan Prancis). Selain itu,
ceritanya yang bertajuk percintaan pun kembali menuai protes, dengan alasan Buya Hamka
ialah seorang alim ulama.
Kisah ini diangkat dari kisah nyata, yang terjadi
pada tanggal 21 Oktober 1936. Namun kemudian Buya Hamka mengolahnya menjadi
karya sastra novel yang dibuat dengan alur dan plot yang sangat apik, sehingga
imajinasi pembaca dibuat seperti terbawa ke dunia faktual.
Berikut ialah ulasan singkat mengenai Kisah yang
kemudian diangkat menjadi sebuah Karya Film oleh SUNIL SORAYA (Terlepas dalam penuaian protes masyarakat Adat minang)
Dikisahkan tentang
cinta sepasang dua manusia yang bernama Hayati dan Zainuddin (Hayati diperankan
oleh Pevita Pearce dan Herjunot Ali yang memerankan sebagai Zainuddin).
Zainuddin adalah
sosok Pria berdarah kelahiran Makassar dan Minang. Ayahnya menurunkan garis keturunan
Bugis (Makassar), seorang pemuda bergelar Pendekar Sutan, kemenakan dari Datuk
Mantari, sedangkan sang Ibu ialah putri dari seorang penyebar agama Islam
keturunan Melayu dari Negeri Batipuh Sapuluh
Koto (Padang panjang).
Setelah Ayah dan
Ibunya meninggal, Zainuddin diurus oleh Mak Base. Ketika dewasa ia meminta izin
kepada Mak Base untuk meninggalkan Makassar menuju Kota kelahiran ibunya,
Padang Panjang.
Kedatangannya di
Kota itu, tidak membuat Zainuddin lantas serta-merta diakui sebagai orang
Padang. Ia masih saja dianggap asing oleh masyarakat setempat karena asal kelahirannya
dari Tanah Bugis bukan Minang. Padahal tempat itu tak lain merupakan Kota
kelahiran Ibunya sendiri.
Suatu ketika
Zainuddin bertemu dengan Hayati, dan ia jatuh cinta kepadanya. Ya, Hayati seorang
gadis desa yang cantik di Negeri Batipuh, memiliki garis keturunan Minang.
Hayati hidup dilatari dari keluarga orang berada dan terpandang.
Kedekatan mereka
pun sampai tersebar luas ke penduduk Minang setempat. Hal ini menjadi aib
tersendiri bagi keluarga Hayati. Mamak Hayati merasa malu, jika putrinya itu
harus menjadi buah bibir dan disandingkan oleh Pemuda keturunan Bugis itu.
Lantas,
Zainuddin pun dipanggil untuk menghadap mamak Hayati. Alih-alih demi
kemaslahatan putrinya tersebut, Zainuddin disuruh pergi meninggalkan Negeri
Batipuh. Dengan sangat berat hati, Zainuddin pun menuruti perintah Mamak
Hayati. Akhirnya ia pindah ke kota Padang Panjang. Akan tetapi hubungan
keduanya tidak berakhir sampai disitu, mereka berjanji akan tetap saling setia
dan saling surat-menyurati.
Suatu ketika
Hayati pergi menginap ke rumah temannya yang bernama Khadijah di Kota Padang
Panjang. Kesempatan itu pun dimanfaatkannya untuk bertemu Zainuddin, karna
sudah lama ia tak jumpa. Betapa Hayati memendam rindu terdalamnya. Namun hal
ini terhalang oleh Aziz yang ternyata tertarik oleh kecantikan Hayati (Tokoh
Aziz diperankan oleh Reza Rahadian ).
Setelah Mak Base
meninggal, warisan keluarga pun diturunkan kepada Zainuddin putra asuhnya. Saat
itu pun ia langsung mengirimkan surat lamaran ke Negeri Batipuh untuk melamar
Hayati. Tak disangka, ternyata hal ini bersamaan dengan datangnya rombongan
dari pihak Aziz yang juga ingin melamar Hayati.
Zainuddin
melamar tanpa menyebutkan harta kekayaanya, sehingga Mamak Hayati pun menolak
lamarannya dan lebih menerima Aziz sebagai pihak yang dipandangnya dari
kalangan beradab.
Zainuddin tak
terima dengan penolakkan tersebut. Terlebih ia mengetahui dari sahabat nya
Muluk, bahwa Aziz bukan orang baik-baik. Aziz itu orang yang bejat moralnya.
Hayati pun merasakan kegetiran itu. Namun sepertinya Zainuddin tak bisa berbuat
banyak. Setelah pernikahan Hayati dan Aziz, ia pun jatuh sakit.
Tak ada lagi
yang dapat menahannya pergi dari Kota itu. Ia tidak bisa terus tinggal dengan
rasa sakitnya, wanita yang dicintainya itu kini telah bersuami. Untuk melupakan
kenangannya bersama Hayati, Zainuddin merantau bersama sahabatnya yang bernama
Muluk ke Jakarta.
Jakarta
merupakan tempat penanjakan karirnya. Ia mulai menunjukkan kemampuannya dalam
menulis, yang kemudian dikenal dengan nama Letter “Z”. Dari situ, ia bersama
Muluk berpindah lagi ke Kota Surabaya. Dan seketika kehidupannya berubah
menjadi kaya raya selain itu, Zainuddin juga terkenal dengan kedermawanannya.
Pada waktu itu
Aziz dan Hayati juga hijrah ke Surabaya. Watak suaminya, Aziz lama-lama pun
semakin terlihat. Aziz menjadi seorang yang suka berjudi dan main perempuan.
Kehidupan ekonominya mulai terombang-ambing, ia terlilit hutang dan terpaksa
diusir dari kontrakkannya.
Secara
kebetulan, mereka bertemu dengan Zainuddin. Dengan kebaikkan hatinya, Zainuddin
mempersilakan mereka untuk singgah sementara di rumahnya. Aziz pun saat itu
malu atas kebaikan yang diberikan Zainuddin terhadap ia dan istri, sehingga
Aziz memutuskan untuk pergi meninggalkan istrinya untuk mencari pekerjaan ke
Banyuwangi.
Selang beberapa
hari, datanglah dua surat dari Aziz. Surat yang pertama berisi surat perceraian
untuk Hayati, dan yang berikutnya berisi permohonan maaf dimana Aziz meminta
agar Zainuddin bisa menerima Hayati kembali.
Tak lama
datanglah sebuah kabar yang mengatakan bahwa Aziz mengakhiri hidupnya dengan
cara bunuh diri. Jenazah Aziz ditemukan di kamarnya. Seketika Hayati juga meminta
maaf kepada Zainuddin dan berterima kasih telah menerima ia untuk bisa tinggal dan
hidup bersama walaupun sementara. Namun pada akhirnya Zainuddin menyuruh Hayati
pulang ke kampung halamannya, dengan sebab ia masih merasakan kekecewaan itu dan
sakit hati. Keesokkan harinya, Hayati pulang dengan menumpang Kapal Van Der
Wijck.
Zainuddin
baru merasakan keberartian Hayati setelah pergi meninggalkannya. Ia sadar,
bahwa ia tidak bisa hidup tanpa Hayati. Keheningan itu pun bertambah setelah
Zainuddin membaca surat Hayati yang bertuliskan “Aku cinta engkau, dan kalau
kumati, adalah kematianku di dalam mengenang engkau.” Dari situlah, Zainuddin sesegera
mungkin betekad menyusul Hayati.
Ketika
sedang bersiap-siap, tersiarlah kabar bahwa kapal Van Der Wijck tenggelam di
pesisir utara pulau Jawa.
Zainuddin
nyaris tak percaya, betapa ia sedih, gusar, tak karuan. Semuanya bercampur
menjadi satu. Dalam pikirannya yang buyar, ia langsung pergi ke Tuban bersama
Muluk untuk mencari Hayati.
Di
sebuah rumah sakit di daerah Lamongan, Zainuddin menemukan Hayati terbaring
lemah sambil memegangi foto Zainuddin. Dan hari itu ialah menjadi pertemuan
terakhir mereka, karena setelahnya Hayati berpesan kepada Zainuddin, ia pun
masih sempat mendengar kata-kata terakhir bahwa Zainuddin masih mencintainya,
sesaat.. Hayati pun meninggal dalam dekapan Zainuddin.
Menyusul
kepergian Hayati, Zainuddin pun meninggal karena sakit. Ia dikebumikan bersebelahan
dengan pusara Hayati.
***




Tidak ada komentar:
Posting Komentar