Jumat, 29 November 2013

SINOPSIS "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck"







“Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” adalah salah satu buah tulisan tangan yang diterbitkan pada tahun 1939 oleh Buya Hamka, seorang ulama, politikus, sekaliber sastrawan Indonesia yang terkenal se-Nusantara. Karya-karya nya sangat diapresiasi oleh khalayak, selain itu karyanya pun turut mengundang banyak kontroversi. Karena pada tulisan tersebut Buya Hamka dituduh memplagiati sebuah karya dari novel Majdulin karya Mustofa Lutfi al Manfaluti (sastrawan Mesir), yang merupakan saduran dari novel Sous les Tilleuls (‘Di Bawah Pohon Tilia’) karya Alphonse Karr (sastrawan Prancis). Selain itu, ceritanya yang bertajuk percintaan pun kembali menuai protes, dengan alasan Buya Hamka ialah seorang alim ulama. 


Kisah ini diangkat dari kisah nyata, yang terjadi pada tanggal 21 Oktober 1936. Namun kemudian Buya Hamka mengolahnya menjadi karya sastra novel yang dibuat dengan alur dan plot yang sangat apik, sehingga imajinasi pembaca dibuat seperti terbawa ke dunia faktual.

Berikut ialah ulasan singkat mengenai Kisah yang kemudian diangkat menjadi sebuah Karya Film oleh SUNIL SORAYA (Terlepas dalam penuaian protes masyarakat Adat minang)





Dikisahkan tentang cinta sepasang dua manusia yang bernama Hayati dan Zainuddin (Hayati diperankan oleh Pevita Pearce dan Herjunot Ali yang memerankan sebagai Zainuddin).

Zainuddin adalah sosok Pria berdarah kelahiran Makassar dan Minang. Ayahnya menurunkan garis keturunan Bugis (Makassar), seorang pemuda bergelar Pendekar Sutan, kemenakan dari Datuk Mantari, sedangkan sang Ibu ialah putri dari seorang penyebar agama Islam keturunan Melayu dari Negeri Batipuh Sapuluh Koto (Padang panjang).

Setelah Ayah dan Ibunya meninggal, Zainuddin diurus oleh Mak Base. Ketika dewasa ia meminta izin kepada Mak Base untuk meninggalkan Makassar menuju Kota kelahiran ibunya, Padang Panjang.
Kedatangannya di Kota itu, tidak membuat Zainuddin lantas serta-merta diakui sebagai orang Padang. Ia masih saja dianggap asing oleh masyarakat setempat karena asal kelahirannya dari Tanah Bugis bukan Minang. Padahal tempat itu tak lain merupakan Kota kelahiran Ibunya sendiri.

Suatu ketika Zainuddin bertemu dengan Hayati, dan ia jatuh cinta kepadanya. Ya, Hayati seorang gadis desa yang cantik di Negeri Batipuh, memiliki garis keturunan Minang. Hayati hidup dilatari dari keluarga orang berada dan terpandang. 

Kedekatan mereka pun sampai tersebar luas ke penduduk Minang setempat. Hal ini menjadi aib tersendiri bagi keluarga Hayati. Mamak Hayati merasa malu, jika putrinya itu harus menjadi buah bibir dan disandingkan oleh Pemuda keturunan Bugis itu.

Lantas, Zainuddin pun dipanggil untuk menghadap mamak Hayati. Alih-alih demi kemaslahatan putrinya tersebut, Zainuddin disuruh pergi meninggalkan Negeri Batipuh. Dengan sangat berat hati, Zainuddin pun menuruti perintah Mamak Hayati. Akhirnya ia pindah ke kota Padang Panjang. Akan tetapi hubungan keduanya tidak berakhir sampai disitu, mereka berjanji akan tetap saling setia dan saling surat-menyurati.
 
Suatu ketika Hayati pergi menginap ke rumah temannya yang bernama Khadijah di Kota Padang Panjang. Kesempatan itu pun dimanfaatkannya untuk bertemu Zainuddin, karna sudah lama ia tak jumpa. Betapa Hayati memendam rindu terdalamnya. Namun hal ini terhalang oleh Aziz yang ternyata tertarik oleh kecantikan Hayati (Tokoh Aziz diperankan oleh Reza Rahadian ).

Setelah Mak Base meninggal, warisan keluarga pun diturunkan kepada Zainuddin putra asuhnya. Saat itu pun ia langsung mengirimkan surat lamaran ke Negeri Batipuh untuk melamar Hayati. Tak disangka, ternyata hal ini bersamaan dengan datangnya rombongan dari pihak Aziz yang juga ingin melamar Hayati.

Zainuddin melamar tanpa menyebutkan harta kekayaanya, sehingga Mamak Hayati pun menolak lamarannya dan lebih menerima Aziz sebagai pihak yang dipandangnya dari kalangan beradab.


Zainuddin tak terima dengan penolakkan tersebut. Terlebih ia mengetahui dari sahabat nya Muluk, bahwa Aziz bukan orang baik-baik. Aziz itu orang yang bejat moralnya. Hayati pun merasakan kegetiran itu. Namun sepertinya Zainuddin tak bisa berbuat banyak. Setelah pernikahan Hayati dan Aziz, ia pun jatuh sakit.

Tak ada lagi yang dapat menahannya pergi dari Kota itu. Ia tidak bisa terus tinggal dengan rasa sakitnya, wanita yang dicintainya itu kini telah bersuami. Untuk melupakan kenangannya bersama Hayati, Zainuddin merantau bersama sahabatnya yang bernama Muluk ke Jakarta.

Jakarta merupakan tempat penanjakan karirnya. Ia mulai menunjukkan kemampuannya dalam menulis, yang kemudian dikenal dengan nama Letter “Z”. Dari situ, ia bersama Muluk berpindah lagi ke Kota Surabaya. Dan seketika kehidupannya berubah menjadi kaya raya selain itu, Zainuddin juga terkenal dengan kedermawanannya.

Pada waktu itu Aziz dan Hayati juga hijrah ke Surabaya. Watak suaminya, Aziz lama-lama pun semakin terlihat. Aziz menjadi seorang yang suka berjudi dan main perempuan. Kehidupan ekonominya mulai terombang-ambing, ia terlilit hutang dan terpaksa diusir dari kontrakkannya.

Secara kebetulan, mereka bertemu dengan Zainuddin. Dengan kebaikkan hatinya, Zainuddin mempersilakan mereka untuk singgah sementara di rumahnya. Aziz pun saat itu malu atas kebaikan yang diberikan Zainuddin terhadap ia dan istri, sehingga Aziz memutuskan untuk pergi meninggalkan istrinya untuk mencari pekerjaan ke Banyuwangi.

Selang beberapa hari, datanglah dua surat dari Aziz. Surat yang pertama berisi surat perceraian untuk Hayati, dan yang berikutnya berisi permohonan maaf dimana Aziz meminta agar Zainuddin bisa menerima Hayati kembali.

Tak lama datanglah sebuah kabar yang mengatakan bahwa Aziz mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Jenazah Aziz ditemukan di kamarnya. Seketika Hayati juga meminta maaf kepada Zainuddin dan berterima kasih telah menerima ia untuk bisa tinggal dan hidup bersama walaupun sementara. Namun pada akhirnya Zainuddin menyuruh Hayati pulang ke kampung halamannya, dengan sebab ia masih merasakan kekecewaan itu dan sakit hati. Keesokkan harinya, Hayati pulang dengan menumpang Kapal Van Der Wijck.


Zainuddin baru merasakan keberartian Hayati setelah pergi meninggalkannya. Ia sadar, bahwa ia tidak bisa hidup tanpa Hayati. Keheningan itu pun bertambah setelah Zainuddin membaca surat Hayati yang bertuliskan “Aku cinta engkau, dan kalau kumati, adalah kematianku di dalam mengenang engkau.” Dari situlah, Zainuddin sesegera mungkin betekad menyusul Hayati.
Ketika sedang bersiap-siap, tersiarlah kabar bahwa kapal Van Der Wijck tenggelam di pesisir utara pulau Jawa.

Zainuddin nyaris tak percaya, betapa ia sedih, gusar, tak karuan. Semuanya bercampur menjadi satu. Dalam pikirannya yang buyar, ia langsung pergi ke Tuban bersama Muluk untuk mencari Hayati.

Di sebuah rumah sakit di daerah Lamongan, Zainuddin menemukan Hayati terbaring lemah sambil memegangi foto Zainuddin. Dan hari itu ialah menjadi pertemuan terakhir mereka, karena setelahnya Hayati berpesan kepada Zainuddin, ia pun masih sempat mendengar kata-kata terakhir bahwa Zainuddin masih mencintainya, sesaat.. Hayati pun meninggal dalam dekapan Zainuddin.

Menyusul kepergian Hayati, Zainuddin pun meninggal karena sakit. Ia dikebumikan bersebelahan dengan pusara Hayati.


***

Tidak ada komentar:


Blogger templates

Free Bunny Carrot MySpace Cursors at www.totallyfreecursors.com

Pages - Menu

 

Copyright 2010 Beranda Senja.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.