Selasa, 26 November 2013

Tunas Muda Harapan Bangsaku







Pagi cerah menyanjung kapas-kapas putih yang bertebar memayungi biru langit. Kaki-kaki kecil itu masih setia berderap tanpa lelah. Dengan semangat, mereka berjalan menyusuri jalan setapak, kerikil maupun bebatuan diterjangnya tanpa masalah. Sesekali mereka harus berani menyebrangi jembatan yang sudah tak layak guna itu. Berpegang erat pada satu tali yang terbentang rapuh, berpijak harap pada papan-papan kayu yang nyaris keropos. Bangganya, mereka berdalih seakan ilmu ialah bagian dari kehidupan, tak ada yang sanggup melemahkan keinginannya untuk maju, demi sebuah impian, cita, dan masa depan cemerlang.



Waktu ialah jumlah kesempatan yang setiap harinya masing-masing sama mendapatkan 24 jam. Tak dapat ditambah, ataupun dikurang. Betapa harus mereka manfaatkan sebaik-baiknya. Dini hari dengan giat mereka sudah harus bersiap, sarapan pagi dengan alakadarnya, mengenakan seragam putih yang kusam karena sudah dipakai lebih dari sekali, tak ada lagi ganti. Mereka membawa sebuah buku dan alat tulis. Ada yang membawa tas, ada pula  yang hanya menyelipkan bukunya pada bagian belakang pinggang celana. Jangan lupa bawa bekal minum dari rumah ya?, karena selama kurang lebih 5 jam mereka harus sabar menempuh perjalanan yang tak sebentar, untuk sampai ke tempat menuntut ilmu di desa seberang dengan berjalan kaki.

Rata-rata kisaran umur mereka 9 tahunan. Umur mereka tak sama rata. Ada yang termuda, dan tertua, yang termuda yaitu usianya 7 tahun, sedangkan yang tertua berumur 12 tahun, Raka namanya. Harusnya kini dia sudah berada di bangku sekolah menengah pertama, namun apa bisa dikata? Jenjang pendidikannya terhenti selama dua tahun karena dari segi ekonomi orang tuanya tak mampu membiayainya untuk melanjutkan sekolah.

Syukur tak hingga, mentari pagi masih tetap hangat menyambut semangat belajar para pejuang muda ini. Rumput hijau, ilalang, serta aliran sungai yang jernih seakan berteriak riuh bersamaan dengan hembusan angin sejuk, berseri menyemangati dan mendukung mereka dengan bangga. 

Siapa sangka jika kelak mereka adalah bagian dari pemimpin-pemimpin bangsa? Sebenarnya pada mereka masih tertanam dan tersimpan berjuta impian yang pada realitanya memerlukan berkali lipat usaha, mungkin lebih kuat dari sebagian orang-orang yang lebih beruntung di luar sana.

Alas kaki yang kerdil, bukan halangan perajut cita-cita. Kaki-kaki kerdil yang suatu saat pasti dapat menjejak hebat! berani berdiri, berada di garis depan dalam medan peperangan. Justru nasionalisme itu lebih nyata mereka tunjukkan! Mereka lebih berani untuk membela bangsa dan tanah air tercinta. Bukan tak mungkin bilamana disana terdapat kemauan yang kuat, do’a dan harap yang tak lekas padam, serta keyakinan yang tak pernah gusar terburu oleh kriteria pecundang. 

Sampai tak habis percaya, bukan sekedar semangat yang mereka miliki, melainkan potensi yang sebenarnya harus digali dan digali lebih dalam, lebih matang, lebih percaya diri bahwa mereka pun tetap menjadi bagian “Anak negeri”.

Sarana dan prasarana nya yang mungkin saat ini belum sampai memadai. Fasilitas minim, dan tenaga pengajar yang masih dalam batas kurang. Masih diperlukan banyak tenaga pengajar muda yang lebih terampil dan kreatif untuk menebar ilmu serta kepahaman sederhana yang dilakukan dari banyak praktik-praktik kecil bermanfaat. Sosok pengajar yang menjadi idola, yang sabar dan berdedikasi penuh terhadap kemajuan anak-anak terbelakang seperti mereka, yang bukan tinggal sebagai penduduk kota, lekat dengan hidup penuh modernitas dan berbasis teknologi.

Andai aku bisa, aku ingin turut terlibat daripadanya. Menyumbangkan secara nyata jiwa, raga, serta materi untuk semangat mereka. Terkadang bukan bodoh penyebab mereka sulit menerima suatu pelajaran, namun konsep dan metode pengajaran berdasar tingkat pemahaman mereka yang seharusnya bisa lebih pengajar kuasai dan aplikasikan. Pembekalan matang dan pembelajaran untuk jadi pengajar kreatif sehingga tak membosankan pun sangat diperlukan. Agar terciptanya esensi seni dalam pembelajaran teori suatu ilmu.

Aah, alangkah senangnya.. kami berterima kasih kepada pemerintah yang sudah menjalankan program Pengajar yang disebar untuk bertugas ke wilayah-wilayah terpencil yang minim informasi, transportasi, dan sumber airnya.
Setidaknya ini menumbuhkan nafas baru dalam pendidikan bangsa Indonesia. Mengudarakan tentang mimpi yang masih harus terus berkejaran, berterbangan, melang-lang bebas seluas cakrawala tanpa batas, setinggi hamparan langit yang terbentuk berlapis-lapis, Ya.. mereka masih sangat dibolehkan bermimpi, apalagi mewujudkannya? : ))

Kini, mereka pejuang-pejuang masa depan telah tumbuh dan berkembang untuk negeri. Tolong, jangan padamkan lilin-lilin harapan yang belum sempurna terangnya, tolong berikan dan hidupkan hak-hak hidup mereka selayaknya, beritakan bahwa pemerintah sanggup memelihara anak-anak yang terlantar dengan pendidikan dan mencukupi dalam segi ekonominya.
Mereka ialah ujung tombak Negeri yang gemah ripah ini, mereka bagian yang perlu dikembangkan untuk kelak menghidupkan dan melestarikan bangsa ini!

Oya,tak lupa ku ucapkan“Selamat hari GURU”, untuk para guru yang berjuang tanpa pamrih, mengabdi tanpa sumbang asih, pun bagi mereka PEMUDA-PEMUDI yang jiwanya terdidik tetapi sudah mampu mendidik, ya mereka para Pengajar Muda : )) yang lebih sadar menyerahkan sebagian kehidupannya untuk ikut serta dalam pembangunan pendidikan guna mencerdaskan bibit-bibit baru untuk tumbuh lebih unggul.


Salam Bakti *(Calon Pengajar Muda) !
Cintai Bumi Pertiwi.




BUKU ADALAH JENDELA ILMU, DAN GURU IALAH PENUNTUN DARIPADANYA

Tidak ada komentar:


Blogger templates

Free Bunny Carrot MySpace Cursors at www.totallyfreecursors.com

Pages - Menu

 

Copyright 2010 Beranda Senja.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.