Pagi cerah menyanjung
kapas-kapas putih yang bertebar memayungi biru langit. Kaki-kaki kecil itu
masih setia berderap tanpa lelah. Dengan semangat, mereka berjalan menyusuri
jalan setapak, kerikil maupun bebatuan diterjangnya tanpa masalah. Sesekali
mereka harus berani menyebrangi jembatan yang sudah tak layak guna itu. Berpegang
erat pada satu tali yang terbentang rapuh, berpijak harap pada papan-papan kayu
yang nyaris keropos. Bangganya, mereka berdalih seakan ilmu ialah bagian dari
kehidupan, tak ada yang sanggup melemahkan keinginannya untuk maju, demi sebuah
impian, cita, dan masa depan cemerlang.
Waktu ialah
jumlah kesempatan yang setiap harinya masing-masing sama mendapatkan 24 jam. Tak
dapat ditambah, ataupun dikurang. Betapa harus mereka manfaatkan sebaik-baiknya.
Dini hari dengan giat mereka sudah harus bersiap, sarapan pagi dengan
alakadarnya, mengenakan seragam putih yang kusam karena sudah dipakai lebih
dari sekali, tak ada lagi ganti. Mereka membawa sebuah buku dan alat tulis. Ada
yang membawa tas, ada pula yang hanya
menyelipkan bukunya pada bagian belakang pinggang celana. Jangan lupa bawa
bekal minum dari rumah ya?, karena selama kurang lebih 5 jam mereka harus sabar
menempuh perjalanan yang tak sebentar, untuk sampai ke tempat menuntut ilmu di
desa seberang dengan berjalan kaki.
Rata-rata
kisaran umur mereka 9 tahunan. Umur mereka tak sama rata. Ada yang termuda, dan
tertua, yang termuda yaitu usianya 7 tahun, sedangkan yang tertua berumur 12
tahun, Raka namanya. Harusnya kini dia sudah berada di bangku sekolah menengah
pertama, namun apa bisa dikata? Jenjang pendidikannya terhenti selama dua tahun
karena dari segi ekonomi orang tuanya tak mampu membiayainya untuk melanjutkan
sekolah.
Syukur tak
hingga, mentari pagi masih tetap hangat menyambut semangat belajar para pejuang
muda ini. Rumput hijau, ilalang, serta aliran sungai yang jernih seakan
berteriak riuh bersamaan dengan hembusan angin sejuk, berseri menyemangati dan
mendukung mereka dengan bangga.
Siapa sangka
jika kelak mereka adalah bagian dari pemimpin-pemimpin bangsa? Sebenarnya pada
mereka masih tertanam dan tersimpan berjuta impian yang pada realitanya
memerlukan berkali lipat usaha, mungkin lebih kuat dari sebagian orang-orang
yang lebih beruntung di luar sana.
Alas kaki yang
kerdil, bukan halangan perajut cita-cita. Kaki-kaki kerdil yang suatu saat pasti
dapat menjejak hebat! berani berdiri, berada di garis depan dalam medan peperangan.
Justru nasionalisme itu lebih nyata mereka tunjukkan! Mereka lebih berani untuk membela bangsa dan
tanah air tercinta. Bukan tak mungkin bilamana disana terdapat kemauan yang
kuat, do’a dan harap yang tak lekas padam, serta keyakinan yang tak pernah
gusar terburu oleh kriteria pecundang.
Sampai tak habis
percaya, bukan sekedar semangat yang mereka miliki, melainkan potensi yang
sebenarnya harus digali dan digali lebih dalam, lebih matang, lebih percaya
diri bahwa mereka pun tetap menjadi bagian “Anak negeri”.
Sarana dan
prasarana nya yang mungkin saat ini belum sampai memadai. Fasilitas minim, dan
tenaga pengajar yang masih dalam batas kurang. Masih diperlukan banyak tenaga
pengajar muda yang lebih terampil dan kreatif untuk menebar ilmu serta
kepahaman sederhana yang dilakukan dari banyak praktik-praktik kecil
bermanfaat. Sosok pengajar yang menjadi idola, yang sabar dan berdedikasi penuh
terhadap kemajuan anak-anak terbelakang seperti mereka, yang bukan tinggal sebagai
penduduk kota, lekat dengan hidup penuh modernitas dan berbasis teknologi.
Andai aku bisa,
aku ingin turut terlibat daripadanya. Menyumbangkan secara nyata jiwa, raga,
serta materi untuk semangat mereka. Terkadang bukan bodoh penyebab mereka sulit
menerima suatu pelajaran, namun konsep dan metode pengajaran berdasar tingkat
pemahaman mereka yang seharusnya bisa lebih pengajar kuasai dan aplikasikan.
Pembekalan matang dan pembelajaran untuk jadi pengajar kreatif sehingga tak
membosankan pun sangat diperlukan. Agar terciptanya esensi seni dalam
pembelajaran teori suatu ilmu.
Aah, alangkah
senangnya.. kami berterima kasih kepada pemerintah yang sudah menjalankan
program Pengajar yang disebar untuk bertugas ke wilayah-wilayah terpencil yang
minim informasi, transportasi, dan sumber airnya.
Setidaknya ini
menumbuhkan nafas baru dalam pendidikan bangsa Indonesia. Mengudarakan tentang
mimpi yang masih harus terus berkejaran, berterbangan, melang-lang bebas seluas
cakrawala tanpa batas, setinggi hamparan langit yang terbentuk berlapis-lapis,
Ya.. mereka masih sangat dibolehkan bermimpi, apalagi mewujudkannya? : ))
Kini, mereka
pejuang-pejuang masa depan telah tumbuh dan berkembang untuk negeri. Tolong,
jangan padamkan lilin-lilin harapan yang belum sempurna terangnya, tolong
berikan dan hidupkan hak-hak hidup mereka selayaknya, beritakan bahwa
pemerintah sanggup memelihara anak-anak yang terlantar dengan pendidikan dan mencukupi dalam segi ekonominya.
Mereka ialah ujung tombak Negeri
yang gemah ripah ini, mereka bagian yang perlu dikembangkan untuk kelak
menghidupkan dan melestarikan bangsa ini!
Oya,tak lupa ku
ucapkan“Selamat hari GURU”, untuk para guru yang berjuang tanpa pamrih,
mengabdi tanpa sumbang asih, pun bagi mereka PEMUDA-PEMUDI yang jiwanya
terdidik tetapi sudah mampu mendidik, ya mereka para Pengajar Muda : )) yang
lebih sadar menyerahkan sebagian kehidupannya untuk ikut serta dalam
pembangunan pendidikan guna mencerdaskan bibit-bibit baru untuk tumbuh lebih
unggul.
Salam Bakti
*(Calon Pengajar Muda) !
Cintai Bumi
Pertiwi.
BUKU ADALAH JENDELA ILMU, DAN GURU IALAH PENUNTUN
DARIPADANYA



Tidak ada komentar:
Posting Komentar