“Disini tempat Si
Pengkritik Palsu!”
Terlalu
pahit berjalan ke depan tanpa seorang teman. Tapi tetap ada yang membiarkannya
sepi, tak berpenghuni.
Dalam
ramai di sebuah tempat itu Ia hanya terus berjalan, menelusuri tiap deretan rak
yang tersusun rapi. Ada yang sepi, ada yang sesak dilabuhi. Ada tempat dimana
hanya orang-orang yang menyukai jenisnya.
“Romansa
remaja?”,Sepertinya bertumpuk di tempat itu. Hanya terlalu banyak yang numpang
lewat saja, sambil sesekali memilih dan melihat-lihat sebagian. Ada pula
yang asyik membacanya
dengan segenap niat, karna mungkin terlalu sayang membelanjakan uangnya untuk
sekedar buku macam itu. Tapi sesekali sepertinya seru juga untuk dibaca.
Terlebih, tak semua buku macam itu sampah. Seperti jenis romannya yang penuh
makna.. disulap akan keindahan bahasa dan realita kisahnya, dibumbui oleh
luasnya imajinasi dan rekaan fiksinya, sehingga menarik mereka yang merasa
bahwa pada sebagian kisahnya sama,
“OH..
Ini passs sekali dengan yang saya alami saat ini.” , atau“Hem.. yaa.. kenangan
itu pernah saya alami beberapa silam.”, “ingat kisah masa muda.” , dan lain
sebagainya.
Selalu
bertanya pada rak-rak yang memajang kumpulan benda yang seringnya disebut
“jendela ilmu”. Brlembar-lembar, tak sedikit, sampai harga pun tak tanggung
melejit! bisa seharga dengan satu potong baju, atau sepatu, atau dibelikan ke
tempat resto untuk sekedar memanjakan isi perut yang nikmat dan lebih
mengenyangkan dibanding hal lain.
Di
sebuah bagian, yang berulaskan “Novel”.. dan selalu yang ditemukan ialah
romansa abadi. Mengapa dalam sastra lebih sering ditemukan kisah-kisah picisan?
Bahkan sempat terfikir bagaimana sang novelis jika tidak mengambil tema untuk
hal yang satu itu. Jarang sekali menemukannya dengan isi yang berbeda, yang
lebih mengena. Sekalipun ditemukan yang lebih berbobot, pasti kisahnya pun
dibumbui oleh roman picisan.
Helaan
nafasnya yang sempat tertahan dan terhempas. Kini mengajaknya kembali berjalan
dan memikirkan satu-satunya hal yang dipertanyakannya. “Adakah yang dapat
melenyapkan ini?” menjauhkan mata, telinga, dan pikiran klise yang selalu
terpaut dalam kisah roman, yang sebenarnya.. tak dipungkiri.. “hey, ini
sebagian realita yang diimajinasikan lebih!”
Ia
pun segera pergi, menyinggahi rak-rak yang berbau sosial dan psikologi. Melirik
rak tetangga, cukup banyak mereka berdiri berlama-lama untuk membaca di tempat
itu. Klasifikasi manusia dengan kecanduan ilmu yang berbeda, yang lebih
bermanfaat, dan.. tak memandang usia. “Bisnis?” begitu menantang dan membuat
rasa penasaran. Untuk jiwa-jiwa yang giat mensukseskan diri. Ya setidaknya
sudah berusaha mau mencari ilmunya, dan tentunya dalam bidang yang luas.
Ia sudah
berada di tempat yang menjauhkannya dari sebuah kenangan dan angan-angan,
sekedar untuk menjiwai kisahnya yang mungkin kefiksiannya ikut terbawa dalam
kehidupan. Bertingkatlah khayalnya yang sudah tinggi!
Ya,
memang hal itu akan selalu dirasa. Lalu apa inspirasi dari mereka sang penulis
maya? Apakah utuh sebuah imaji, atau bentuk pelampiasan diri? Yang tak sanggup
membendung kewarasan akibat khayal ceritanya sendiri bersama tokoh yang
dibuatnya dan dihidupkannya dalam sebuah kisah.
“Klise..”,
tak ada yang seindah itu.. realita selalu dilanda kerumitan yang tak selalu
menjanjikan. Pada hati yang selalu dicitakan sediri, di do’akan dalam sepi, dan
semua diserahkan pada sang pencipta diri.
Manusia..
berjuang menuju titik yang sama dengan diri sendiri. Benda yang menarik pikir
untuk tetap dipilah-pilih. Tanpa kendali, bisa jadi benda itu penambah
imajinasi gila! Kembali, pada akhirnya semua yang diceritakan tak pernah
berakhir sejalan. Skenario palsu untuk memanggil kejiwaan pada dunia fiksi,
yang akhirnya menemuka kata “Ya”, “mengangguk dalam diam”, “tersenyum sendiri”,
atau malah.. semakin menjadi, khayal yang dibuat semakin bertambah untuk
diyakinkan dan terkuras untuk selalu dipikirkan.
“Mengapa
selalu Kau yang menjadi bahan imajinasi?.....”
Tertanda
Pengembara
Dunia Fiksi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar