Senja.
Darimana dia dapat mengenalnya?
Kaukah perantara yang pertemukan itu? atau kau pemisah waktu?
Senja, di mana ketika jingga beradu dengan kemerahan sendu. Selalu begitu, dia menemukanmu di sela ketertinggalan tepi yang melayu. Mengembus deburan ombak, dia tahu kau menepi di situ.
Angin itu, dirimu, mimpinya. Kau berlayar, bersenda dengan alam yang bebas menghantar berkelana lepas, juga tanpa sosok lama itu. Angin bertemu dengan mereka, pemilik hati baru.
Ternyata.. peraduan langit jingga menguatkan muara resah yang selalu membuntuti. Meretaskan beragam cerita mimpi yang mungkin terlalu bodoh untuk diratapi. Mengapa kekuatan senja melahirkan nyawa tersendiri pada setiap tokohnya?
Seakan senja enggan pergi menghilang, selalu di situ merundung samar tanpa segenap kekuatan.
"Aku mau kau pergi dari keraguan senja.., aku tahu jarak antara senjaku dan senjamu bukan untuk semakin dekat, karena kamu bukan tujuanku.", ia meramu kata pembias rindu,bercampur ragu, menghitam penuh bisu.
Percakapan mimpi takkan pernah habis dirasanya. Keterkaitannya selalu berusaha ia padamkan, ia matikan. Namun setelahnya, menepi di sudut sana bukan jadi pilihan yang terbaik. Mungkin.
Mengapa senja harus merajut lagi?
Langit asa dan tujuan sudah semakin jelas tak sama.
Berbeda.
Langit asa dan tujuan sudah semakin jelas tak sama.
Berbeda.
Hei, Angin merebak, menyapunya lagi ke alam wajah masa lalu. Asal ditahu, semua ungkapan yang dibuatnya hanyalah klise, omong kosong. Jangan anggap semua itu berusaha saling menyatu.
"Maafkan, jika tiada lagi frasa yang bukan menuju padamu. Biarkan aliran kata tetap mengalir seadanya. Kumohon kau tak terganggu. Karena ini hanya selingan dalam aku menunggu senja. Senja pergi, sampai senja datang lagi. Melepas kata-kata magis yang tak mudah tertebak, terlintas dengan spontanitas. Asal tahu, aku menunggu yang tiada kutahu."
Senja.
Dia tak pernah menyaksikan dua kubu itu saling merindu, menunggu, apalagi menjamu kenangan yang sesaat hidup meracun. Menertawakan kesendirian masing-masing. Menunggu celahnya, ya.. Anginlah yang memilih datang jalannya. Meneruskan bagian kisah kutub semasanya yang ditinggal untuk kembali ditemu.
Di tengah jalan senja, wajah pelamun dengan sama merunduk. Berbicara pada hati dan impiannya di sebrang sana. Beranjak dari satu kisah kepada kisah lainnya.
"Sepertinya kau menunggu Sang Impianmu di kota nun jauh di sana? Tapi kau meragu pada ia yang tersimpan rapi tanpa sentuh. Biarlah cerita lama tak perlu "diundo". Kau bisa merekapnya cantik pada folder tersendiri. Tanpa harus dibuka dan terkerjakan lagi. Biarlah.. ya diamkan saja tepat pada rumahnya.", begitu mereka bercakap dalam diri sendiri, pada tempat yang berbeda, untuk ruang sepi yang menanti tiap pemilik pasti kisahnya.
Sesungguhnya tak begitu. Tulisan ini hanyalah palsu.
Tapi tunggu, tolong nyalakan radarmu dulu. Pasti kamu dapati biasan kalbu. Senja, selalu padamu kata "tunggu".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar