Tarikan napas panjang itu tak pernah lelah menuai embun. Harapan baru selalu muncul. Ketika motivasi dan semangat pupus bertebaran. Berkeliaran tanpa jeda, berleha-leha dalam kemalasan. Syukurku tak hingga. Allah selalu memberi petunjuk baru agar aku tidak mati, supaya aku kembali berdiri.
Berusaha sepenuhnya membangun diri sendiri. Menghidupkan nyawa baru pada refleksi kata yang kaku. Aku hanya ingin menuai kata dalam benak. Berceloteh ringan, namun nyatanya terlalu ambigu untuk sekedar ditafsirkan. Tak sembarang yang tahu, sedikit yang pahami. Mungkin karena diri ini masih enggan menelanjangi rangkai kata yang belum benar harus dibicarakan. Hanya kiasan yang mungkin malah tak bermakna. Dikemas dalam wadah yang buatku berkaca-kaca. Selalu berdentum melodi cinta yang tak terkira. Cinta pada yang menggerakkan otak ini, cinta pada penghidup jiwa dan kepekaan ini, cinta pada penjeli bola mata hitam, cinta pada yang menguasai hati. Tanpanya aku tak bisa sampai sejauh ini. Hanya air mata tersungkur teduh di alas beludru lembutku. Sang penghadir kata sejati, tentu bukanlah aku.
Katakan pada dunia, "Hai mimpi! Kau tidak perlu terkejut! kau harus takluk oleh rasa percaya diri, membenarkan kata hati, dan mewujudkan walau tak langsung melejit."
Karena aku tak ingin berhenti pada ruangku -- Aku lebih hidup dengan menulis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar