Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Agustus 2015

Dandelion IV (Mengosongkan Diri)



Dandelion Pada Pagi

Menghimpun setiap jengkal perjalanan, memikul asa serta mimpi dalam lamunan. Bercerita dalam diam, mengulas sejarah yang sama sekali belum terjadi. Kukira, belum di depan mata. Namun  selalu saja begitu indah. Mengapa?


Pada sajak pendek yang kerap kutulis. Menimbun tiap hela napas yang rasanya semakin sesak digugah. Melaluinya, terlukis indah yang tak nampak di pelupukmu. Merangkum senja yang telah berakhir,  dengan rangkaian celoteh pagi yang damai walau jemari tak pandai bercerita. 


Di sudut pagi yang mengerling dalam diam. Habis kataku bukan pertanda jarak yang akan berlalu enyah. Habis kataku, menjelma pada kesaksian pagi yang terlalu indah untuk dilalui. Padanya, kutitipkan doa-doa terbaik, yang juga kupinta untaian itu dari hatimu, sebagai sayap penghantar agar kelak sampai menyentuh singgasana.


“Selamat Pagi.”


Selalu kuhaturkan pada tiap tanjakan anak tangga yang semakin hari semakin tinggi. Laksana inspirasiku yang terbang, terbawa bersama alunan pagimu ke seberang kisah dalam kitabNya. Rahasia umum, jika sepasang nama hanya tinggal dan tergenggam oleh misteri. Karena ‘kepastian’, rupanya ialah hari di mana kita kan berucap “Selamat Tinggal” pada semesta. Kekal sendiri, sampai hari yang dijanjikanNya benar terjadi.


“Persiapkan Diri”


Maka, sebagian kecil hari ini ialah yang harus disyukurkan dan dinikmati. Menjalani warna kehidupan dalam bingkai terindah. Ketika kau berhasil menepi, kelak ucapkanlah, “Ya, ini adalah sebuah karya seni arsitektur tertinggi.” Tentu setiap darinya tak akan mewujud sama. Terselip pada halaman, akan sikap serta langkah yang kiranya turut Ia perhitungkan. Berupayalah, menyegerakan tuk mengosongkan kembali puing-puing hati dari hal duniawi. Karena pagi ini, penat mengharuskanmu tuk mengisinya kembali dengan perihal lain yang tentu lebih baik.


Dalam keberartian ‘entah’ yang kerap kau dengar. Diam bukan wujud kehambaran, karena ada jarak, karena ada doa. Sebagai garis untuk kita selalu menggantungkan harap padaNya. Maka tenanglah, diamlah.

Selasa, 28 April 2015

Menunggu Habis di Batas Matahari


"Waktu, sepenggal perjalanan yang kiranya jangan tersiakan. Kepada siapa kau akan kembali? Menuju-Nya, tentu bukan dengan tangan kosong. Tidakkah kau hanya manusia yang selalu merasa kerdil? Dalam fana, aku menunggu di pelataran senja. Menjemput pagi, untukmu Matahari."

Senin, 29 Desember 2014

Dandelion pada Senja



.. Maka tak akan terjelaskan. Sekalipun kau berkata,

 “Ya”






Menghangat di akhir senja, merasakan sisa-sisa karbondioksida yang basah. Ada awal, pasti kelak kau dapati penghujungnya. Bersabarlah..

Selalu terlambat. Ya, lagi-lagi tak kan terbiarkan sekotak harapan itu berlabuh atau hancur karna kesiaan. Hei, aku tahu..  Ini bukan permainan yang lucu.
Lihat Dandelion di tepian senja itu, indah bukan? Seindah peraduan layar yang kau saksikan, meliput kapas bunga yang sedari pagi menyepi, melambai, dan menghias sendiri. Hingga senja, ia beradu dengan ketenangan. 

Hampa? Sesungguhnya tidak. Ia selalu berteman langit sampai senja tiba.
Terkadang ia berpayung dari hujan, walaupun tetap basah. Menunggu pada pagi yang mendatangi embun-embun suci. Sampai sesaat pagi merindu hangat. Matahari.

Matahari? Ke mana dia?
Sepanjang ini Dandelion hanya bersemi indah tatkala senja. Semakin terhanyut oleh kelembutannya di tengah semu jingga kemerahan. Berselip kata tunggu, temaram, dan layu. Pagi Matahari tentu dirindu. Namun, adakah?


Sepanjang kisah, ia hanya mengenal satu putaran waktu. Hanya senja, yang sesekali memandang wajah bulan, tatkala malam.
Ke mana hari lainnya? Benarkah hanya sibuk menghabisi pada senja?

Mencinta senja, bukan pula harus mengenyahkan pagi. Aku ingin melihat Dandelion pada embun yang basah, bersemu manis, dijaga oleh pantulan sinar hingga menembus kaca. Maka pagi, Aku berhias dalam petikan kapas-kapasnya yang ringan beterbangan. Tertiup bersama angin, dihembus nafas baru yang tampak sangat bersemangat. Ya, "Karena ini hari baruku, barumu.."

Sebab Ia terlalu sering merasakan gerimis di penghabisan hari; senja. Padahal sesekali  hujan yang sampai membuat sakit ialah obat di kemudian hari. Bermain hujan sesekali, bermain panas pada pagi. Katanya itu menyehatkan. Lantas, ditunggu paginya. Ditunggu senjanya.
Kemudian langit menurunkan guyur hujan, bukan untuk sebuah luka yang melulu basah, melainkan tujuh warna pembias dari putih. 

"Senja, kapan kau habis? .. Ku harap itu segera.."


 Dandelion menunggu pagi, Matahari.

Rabu, 13 Agustus 2014

Hujan; Kemistri Antara Langit dan Makhluk Bumi







Terdapat nyanyian yang katanya terlalu lembut jadi penawar sajak kerinduan; sebuah kenangan, kehilangan, kepergian.

Engkau, pada gerimis


Kamis, 07 Agustus 2014

Seduh Teduh, Kopi Hitam-Putihmu











Kadang, banyak warna tidak selalu membuatmu utuh dalam bahagia. Warna. Unsur yang mengandung banyak spekulasi. Bisa dikatakan "beda", atau lain hal ialah "ceria".  Mungkin, untuk satu hal terakhir bisa dikatakan demikian jika saja ditambahi pengulangan beda bunyi, menjadi "warna-warni"

Sabtu, 05 April 2014

Nyalakan Radar Positifmu!




Pernahkah kamu berpikir, setiap kemampuan maupun sumber minatmu mampu menginspirasi orang lain?

Ketika kamu bisa hidup dan tinggal di dalam duniamu, bebas menikmati lepas detail setiap kegiatan yang kamu lakoni, berpikir liar menerjang batas dunia, imajinasimu berkerumun, melacak destinasi selanjutnya yang merupakan impianmu, tidakkah ada sebab hal yang lebih indah daripada kamu bisa membagi itu dengan teman-temanmu?

Menjadi sama, sejalan dengan orang yang juga satu tujuan denganmu, bagiku impian tak sesempit itu. Bermimipi, apalagi bisa meraihnya ialah hal yang sangat membuatmu bahagia pastinya. Bagiku bahagia tak cukup sampai di situ. Ada ruang sebelah, tentang mimpi yang mungkin terlewati. “Apa?”

“Manfaat”, manfaat di mana kamu bisa berkelakar jejak kebaikan, saling menularkan penyakit “candu semangat”, menginspirasi tiap bulir lengah manusia yang menetes tanpa kepekaan. 

Ya, masih terlalu banyak mereka yang “mampu” namun berjalan di tempat. Ku pikir ini bukan masalah “bisa” dan “tidak bisa”, bermainlah ke sini sebentar, silakan ambil cermin di rumah, berkacalah sepuasmu. Bukan untuk meratapi wajah jelekmu, atau mengangkat dagu akan ketampanan dan kecantikanmu, bukalah jendela pikiranmu, luaskan nyala radarmu, dan rasakan setiap emosi yang pernah kamu tuangkan dalam bentuk karya. “Apa? kamu tidak punya karya?”

Mungkin Tuhan tertawa ketika mendengar jawab macam itu. Bagaimana tidak? Rupanya Dia telah mengirim banyak nikmat,kelebihan, yang nyatanya sadar atau tidak, kamu akan mengatakan, “hei, tidakkah hal ini hanya aku yang bisa melakukannya?”

Tepat. Terlalu banyak sumber kemampuan yang belum kamu gali. Harus berapa tahun lagi kamu bisa menyadari akan harta karun terpendam itu? pantas ruang karyamu masih lapang, bibit kebaikan pun belum kamu tebarkan.Lantas apa yang nantinya akan kamu tuai?

Perjalanan ini terlalu singkat, untuk kamu tanpa karya dan nihil kebaikan. Aku hanya coba mengupas detail si bola mimpi, bagaimana cara bermimpi meraih tujuan dengan lebih senang. Ya, cobalah ajak mereka di sekitarmu untuk masuk. Jemput mereka untuk bisa merasakan kebaikan yang juga kamu dapati dari hal tersebut, jangan sesekali ada ruang yang vokal menyuarakan dirimu, tentangmu, mimpimu, hal ilmu dan kebaikan, dan hanya kamu yang bisa ada di tengahnya.
Kini, bolehkah ku sebut satu hal yang tersamar itu?..
ialah kebaikan yang akan jadi abadi, tentang impian dan ilmu yang kamu punyai, “tebarkan benih itu di sekitarmu” walau hanya beberapa butir, namun mereka dapat merasakan manfaat sedikitnya. Lebih luar biasanya, jika manfaat itu mampu menginspirasi dan mendorongnya untuk ikut melakukan apa yang juga kamu tekuni. Jika hal itu baik dan menyenangkan, kenapa tidak? :)

Selamat menebar radar positifmu, selamat menuai benih kebaikan.

Minggu, 05 Januari 2014

Di Balik Coretan Senjaku

Tarikan napas panjang itu tak pernah lelah menuai embun. Harapan baru selalu muncul. Ketika motivasi dan semangat pupus bertebaran. Berkeliaran tanpa jeda, berleha-leha dalam kemalasan. Syukurku tak hingga. Allah selalu memberi petunjuk baru agar aku tidak mati, supaya aku kembali berdiri.

Berusaha sepenuhnya membangun diri sendiri. Menghidupkan nyawa baru pada refleksi kata yang kaku. Aku hanya ingin menuai kata dalam benak. Berceloteh ringan, namun nyatanya terlalu ambigu untuk sekedar ditafsirkan. Tak sembarang yang tahu, sedikit yang pahami. Mungkin karena diri ini masih enggan menelanjangi rangkai kata yang belum benar harus dibicarakan. Hanya kiasan yang mungkin malah tak bermakna. Dikemas dalam wadah yang buatku berkaca-kaca. Selalu berdentum melodi cinta yang tak terkira. Cinta pada yang menggerakkan otak ini, cinta pada penghidup jiwa dan kepekaan ini, cinta pada penjeli bola mata hitam, cinta pada yang menguasai hati. Tanpanya aku tak bisa sampai sejauh ini. Hanya air mata tersungkur teduh di alas beludru lembutku. Sang penghadir kata sejati, tentu bukanlah aku.

Katakan pada dunia, "Hai mimpi! Kau tidak perlu terkejut! kau harus takluk oleh rasa percaya diri, membenarkan kata hati, dan mewujudkan walau tak langsung melejit."


Karena aku tak ingin berhenti pada ruangku -- Aku lebih hidup dengan menulis

Blogger templates

Free Bunny Carrot MySpace Cursors at www.totallyfreecursors.com

Pages - Menu

 

Copyright 2010 Beranda Senja.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.