Tampilkan postingan dengan label Senja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Senja. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Agustus 2015

Monokrom yang Saling Merindu



 
source: google.com
Sebut aku, hitam atau putihmu..


Pada jiwa yang tak pernah damai dalam sendiri. Jiwa tak ingin sendiri berbagi khayal tentang mimpi. Jiwa mencari arti, menemukan sebahagiannya. Jiwa berharap temukan keping lain yang dapat menggenapkan. Jiwa merasa gundah, maka jiwa akan selalu kembali bersimpuh di hadapan sang pencipta. Itulah jiwa, yang senantiasa mengharap pertemuan dengan yang dicinta.

Kulihat, kisah di ujung senja. Mereka bercakap untuk kemudian berpencar ke masing arah dan tujuan. Jalan tak pernah memberi kabar untuk pertemuan ke sekian, dan ke sekian. Karena jalan selalu membubuhi jejak koma dalam setiap terkaan.
  
Kiranya di setiap  jalan, Tuhan memberikan banyak manusia dan banyak warna yang ditemui. Membuat beberapa di antaranya saling mempelajari dan memahami. Barang tentu, aku pun sama turut mempelajarimu. Begini dan begitu. Tidak selalu perihal baik yang ditemu. Karena hidup akan senantiasa begitu. Sebut saja, itu kau dan aku. Yang tak pernah sama, tapi tetap selaras jika dipadu.

Berjalanlah dengan seiring, bukan sama-sama bergerak karena digiring.
Tumbuh bersama, tanpa melibat 'paksa'.

Kamis, 20 Agustus 2015

Dandelion IV (Mengosongkan Diri)



Dandelion Pada Pagi

Menghimpun setiap jengkal perjalanan, memikul asa serta mimpi dalam lamunan. Bercerita dalam diam, mengulas sejarah yang sama sekali belum terjadi. Kukira, belum di depan mata. Namun  selalu saja begitu indah. Mengapa?


Pada sajak pendek yang kerap kutulis. Menimbun tiap hela napas yang rasanya semakin sesak digugah. Melaluinya, terlukis indah yang tak nampak di pelupukmu. Merangkum senja yang telah berakhir,  dengan rangkaian celoteh pagi yang damai walau jemari tak pandai bercerita. 


Di sudut pagi yang mengerling dalam diam. Habis kataku bukan pertanda jarak yang akan berlalu enyah. Habis kataku, menjelma pada kesaksian pagi yang terlalu indah untuk dilalui. Padanya, kutitipkan doa-doa terbaik, yang juga kupinta untaian itu dari hatimu, sebagai sayap penghantar agar kelak sampai menyentuh singgasana.


“Selamat Pagi.”


Selalu kuhaturkan pada tiap tanjakan anak tangga yang semakin hari semakin tinggi. Laksana inspirasiku yang terbang, terbawa bersama alunan pagimu ke seberang kisah dalam kitabNya. Rahasia umum, jika sepasang nama hanya tinggal dan tergenggam oleh misteri. Karena ‘kepastian’, rupanya ialah hari di mana kita kan berucap “Selamat Tinggal” pada semesta. Kekal sendiri, sampai hari yang dijanjikanNya benar terjadi.


“Persiapkan Diri”


Maka, sebagian kecil hari ini ialah yang harus disyukurkan dan dinikmati. Menjalani warna kehidupan dalam bingkai terindah. Ketika kau berhasil menepi, kelak ucapkanlah, “Ya, ini adalah sebuah karya seni arsitektur tertinggi.” Tentu setiap darinya tak akan mewujud sama. Terselip pada halaman, akan sikap serta langkah yang kiranya turut Ia perhitungkan. Berupayalah, menyegerakan tuk mengosongkan kembali puing-puing hati dari hal duniawi. Karena pagi ini, penat mengharuskanmu tuk mengisinya kembali dengan perihal lain yang tentu lebih baik.


Dalam keberartian ‘entah’ yang kerap kau dengar. Diam bukan wujud kehambaran, karena ada jarak, karena ada doa. Sebagai garis untuk kita selalu menggantungkan harap padaNya. Maka tenanglah, diamlah.

Minggu, 26 Juli 2015

Dandelion III





Rasanya baru saja kemarin, membenamkan diri dalam senja di mana matahari saat itu sama-sama tenggelam. Berdiri melihat bibit dandelion itu beterbangan, hilang, dengan angin yang sama gusar. Menyerta harap yang kelak akan kutemukan di penghujung pagi.

Rasanya baru saja kemarin, temaram gelap berakhir. Karena sinar pagi tak sabar meminta menghiasi sudut langit biru, yang pun aku tak sabar untuk melihat kapas-kapasnya beriring memayung teduh bibit-bibit bunga itu. Di tempat yang entah. Mereka dapati tumbuh dan mekar, atau justru mati dalam perjalanan bersama angin. Ya, mati sebelum aku bisa merawatnya utuh. Harum, dalam doa yang terpanjatkan setiap pergantian hari. Itu dirimu, Pagi.

Namun Pagi hanya sekadar rencana, yang lagi-lagi pertemuannya seperti peluang angka dadu yang hendak keluar. Tidak tertebak.
Kini, aku mengutarakan kediaman yang juga entah. Berjarak darimu, tapi sejatinya berteduh dalam kemah yang sama.

Suatu hari, yang kelak menjadikan aku menemukan bunga itu  bersemi. Menyapaku, dalam pagi.



Belitung, dalam jarak. 
Basah di antara dinding kerinduan

Selasa, 28 April 2015

Menunggu Habis di Batas Matahari


"Waktu, sepenggal perjalanan yang kiranya jangan tersiakan. Kepada siapa kau akan kembali? Menuju-Nya, tentu bukan dengan tangan kosong. Tidakkah kau hanya manusia yang selalu merasa kerdil? Dalam fana, aku menunggu di pelataran senja. Menjemput pagi, untukmu Matahari."

Senin, 29 Desember 2014

Dandelion pada Senja



.. Maka tak akan terjelaskan. Sekalipun kau berkata,

 “Ya”






Menghangat di akhir senja, merasakan sisa-sisa karbondioksida yang basah. Ada awal, pasti kelak kau dapati penghujungnya. Bersabarlah..

Selalu terlambat. Ya, lagi-lagi tak kan terbiarkan sekotak harapan itu berlabuh atau hancur karna kesiaan. Hei, aku tahu..  Ini bukan permainan yang lucu.
Lihat Dandelion di tepian senja itu, indah bukan? Seindah peraduan layar yang kau saksikan, meliput kapas bunga yang sedari pagi menyepi, melambai, dan menghias sendiri. Hingga senja, ia beradu dengan ketenangan. 

Hampa? Sesungguhnya tidak. Ia selalu berteman langit sampai senja tiba.
Terkadang ia berpayung dari hujan, walaupun tetap basah. Menunggu pada pagi yang mendatangi embun-embun suci. Sampai sesaat pagi merindu hangat. Matahari.

Matahari? Ke mana dia?
Sepanjang ini Dandelion hanya bersemi indah tatkala senja. Semakin terhanyut oleh kelembutannya di tengah semu jingga kemerahan. Berselip kata tunggu, temaram, dan layu. Pagi Matahari tentu dirindu. Namun, adakah?


Sepanjang kisah, ia hanya mengenal satu putaran waktu. Hanya senja, yang sesekali memandang wajah bulan, tatkala malam.
Ke mana hari lainnya? Benarkah hanya sibuk menghabisi pada senja?

Mencinta senja, bukan pula harus mengenyahkan pagi. Aku ingin melihat Dandelion pada embun yang basah, bersemu manis, dijaga oleh pantulan sinar hingga menembus kaca. Maka pagi, Aku berhias dalam petikan kapas-kapasnya yang ringan beterbangan. Tertiup bersama angin, dihembus nafas baru yang tampak sangat bersemangat. Ya, "Karena ini hari baruku, barumu.."

Sebab Ia terlalu sering merasakan gerimis di penghabisan hari; senja. Padahal sesekali  hujan yang sampai membuat sakit ialah obat di kemudian hari. Bermain hujan sesekali, bermain panas pada pagi. Katanya itu menyehatkan. Lantas, ditunggu paginya. Ditunggu senjanya.
Kemudian langit menurunkan guyur hujan, bukan untuk sebuah luka yang melulu basah, melainkan tujuh warna pembias dari putih. 

"Senja, kapan kau habis? .. Ku harap itu segera.."


 Dandelion menunggu pagi, Matahari.

Blogger templates

Free Bunny Carrot MySpace Cursors at www.totallyfreecursors.com

Pages - Menu

 

Copyright 2010 Beranda Senja.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.