Senin, 08 September 2025

Menemukan Cermin yang Hilang

"Seribu jiwa tidak akan berdaya, jika tidak percaya yang di depan kaca."— pishi. Tidak bisakah semua berjalan normal saja seperti cerita manusia pada umumnya? Tidak bisakah menuliskan ulang lembar perjalanan untuk menempatkan diri sesuai episode yang kau mau? Perjalanan ini menjadi tidak pernah bisa biasa saja. Mungkin karena kau terpilih? Kau tampak lelah, menanggung beban perasaan yang dititipkan. Mungkin karena kini kau masih berjalan menggunakan topeng dan jubah ego kebesaranmu. Lepaskan.. ya, jernihkan perlahan. Sejak kecil mungkin ketidakadilan menjadi cermin yang ingin kau tegakkan. Sejak dahulu, mungkin kau belum pernah menemukan cinta yang utuh. Kau sibuk mencari, banyak memberi, terbiasa menjadi penyelamat, pelindung, penasihat. Namun, justru semuanya hanya membuatmu perlahan runtuh. Apakah kau mulai merasa kehilangan dirimu? "Kau tidak pernah berjalan sendirian," begitu ungkap batinmu. Meski tidak selalu berbalas dengan kebaikan, dan manusia tampak menjadi sosok yang kosong tanpa jiwa, yang tidak pernah lagi bisa dengan mudah kau percaya. Menimbun luka demi luka selama perjalanan membuat diri tampak angkuh, terbiasa menutupi. "Ya, aku mampu dengan diri sendiri." Namun, cermin dalam diri justru rentan dengan ketidaklayakan, dan kau mungkin lupa bagaimana cara mengobati sisi terdalam yang sialnya ia akan terus tumbuh dalam waktu yang semakin kau lawan, justru semakin membuat lebur. Ya, melebur. Sebenarnya itu tujuan perjalananmu. Melebur dari topeng dan ego duniawi. Jika belum selesai, konon menjadi siklus berulang yang akan kau temukan polanya di lain waktu. Sampai di sini, sudahkah cukup membuatmu berserah? Kenyataannya lebih sering akan mengutuk diri, seolah perjalanan tidak pernah memihak. Mengaburkan semakin jauh tentang harapan dan ilusi masa depan. Kita terbiasa bertanya dan menunggu. Bersepakat dengan waktu, bernegosiasi dengan sang pemiliknya. Menjawab keberuntungan tentang nasib yang bisa saja berubah dalam hitungan satu malam. Anggaplah aku pernah 'mencuri' contekannya. Lalu aku bisa membersamaimu menghadapi tentang dunia yang selalu kau mintakan cepat berlalu. Tapi aku bukan superhero dalam semestamu. Nyatanya, kita hanya dua manusia biasa yang terbiasa rapuh dan terpaksa terbentur, terjatuh, tersungkur —yang kemudian perlahan terbentuk kembali untuk sama menguatkan diri sendiri, menghidupi perjalanan yang entah sampai kapan. Sampai kau bertemu dengan diri sejatimu, sampai kau terbiasa tidak melekatkan pada hal-hal dunia yang kini tidak lagi terlalu banyak kau harapkan. Terkadang, aku merenungi. Inikah perjalanan yang dahulu aku pilih sendiri di hadapan-Nya? Oh, ya, dan aku memilih untuk bertemu dengan cinta sejati, yang katanya itu akan menjadi pengobat hati. Padahal penyelamat sejati hanyalah diri sendiri. Namun, memaksa untuk bertahan dengan kesendirian perlahan bisa membuat jiwamu mati. Kecuali, kau sudah utuh sepenuhnya menerima dan mencintai diri. Ya, ternyata perjalanan menemukan cinta sejati juga merupakan bagian dari proses bagaimana menemukan diri sendiri yang hilang. Dalam ketidaktahuan, ternyata kehidupan tidak berjalan linear. Aku melihat cermin paralel yang terhubung. Seperti ada benang tidak terlihat yang menautkan setiap episodenya, untuk berjalan selaras, beriringan, dan mendewasakan dalam pengalaman yang kurang lebih tidak jauh berbeda. Sebelum pertemuan, jiwamu sudah ditempa lebih dulu dengan banyak kepahitan dan luka yang kau kutuk agar suatu saat kelak menumbuhkan tunas kehidupan baru, menepikan senyap yang sendu. Aku tau, ini tidak mudah. Tidak juga sesulit yang kau bayangkan. Karena nyatanya, kita sudah berjalan sejauh ini hingga di titik pertemuan. Aku tidak pernah tau, kalau perasaan ini melebihi sekadar imaji. Sayangnya, apa yang memang dari hati tidak akan bisa dimanipulasi. Aku percaya, tidak ada kebetulan dan selalu ada peristiwa yang menurut kita acak tapi sebenarnya sudah sangat apik ada yang mengatur. Maka berjalan dalam ketidaktahuan, serta merta membuka sebanyak-banyaknya pintu untuk menarik hal-hal baik dalam doa yang selalu tersemogakan. Banyak hal aku pelajari. Banyak teori yang terlalu absurd untuk sekadar diketahui. Lalu justru aku sampai pada perjalanan ini, yang mana hal-hal absurd yang kutemukan tadi, hadir sebagai petunjuk dari apa yang sekarang sedang berjalan. Rasanya sejak dulu, aku seperti menyusun kepingan acak untuk sebuah puzzle. Kemudian kau datang, membawakan kepingan puzzle lain yang menggenapkan. Namun, sekaligus kembali memberikan pertanyaan. Kalau saja, apakah kau hanya akan datang lalu terpaksa memilih jalan hilang, atau menetap pada satu misi jiwa untuk sama-sama kita menyusun lagi keping lainnya? Kau masih hadir dititipkan dengan segala perasaan dan pengetahuan, tentu bukan tanpa alasan. Tegapkan lagi langkahan itu. Bisa jadi perjalanan ini sedang menyiapkan masing jiwa untuk lebih siap menghadapi. Jika kau tahu, sejak awal bagaimana caranya pertemuan semakin kuat berselaras dalam proses penyembuhan. Sebenarnya pada hal-hal yang di luar kendali, kita hanya perlu percayakan lagi. Ketika kau mencari sumber kekuatan lain dari luar untuk meneruskan perjalanan, maka yakinlah terlebih dulu dengan jiwamu sendiri. Aku tetap dan masih di sini atas izin-Nya. Tidak apa bila kabar itu belum kudengar hari ini. Sebab aku tau, langkahmu sedang mencari jalannya sendiri— yang diam-diam tetap sama sedang melangitkan. Jika benar demikian, rasanya ini akan menjadi titik permulaan yang berkesudahan untuk tidak lagi mencari.

Tidak ada komentar:


Blogger templates

Free Bunny Carrot MySpace Cursors at www.totallyfreecursors.com

Pages - Menu

 

Copyright 2010 Beranda Senja.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.