Senin, 18 Agustus 2025
Perjumpaan Berulang
Apakah kalian pernah mengalami keterhubungan dengan seseorang secara acak tanpa memberikan intensi lebih dulu?
Mungkin ini akan terasa membingungkan di awal, intensitas emosi muncul seketika di momen tertentu juga secara tidak tertebak. Awalnya saya mengira karena ini kepekaan diri yang bisa merasakan emosi orang lain dari jarak jauh, tapi terkadang juga tidak punya kemampuan untuk tahu kenapa tertuju kepadanya? Tujuannya? Memangnya kenapa dengannya?
Dari pertanyaan-pertanyaan itu, kamu akan mulai menggali lebih dalam dan seperti ada yang mengarahkan untuk mengenali orang itu lebih jauh. Enggak hanya dari sisi keterpanggilan secara emosi, yang bisa tiba-tiba sedih mengingatnya, tapi beberapa lapis mimpi memberikan potongan-potongan informasi yang entah apakah itu akan menjadi petunjuk atau hanya yang berlalu jika dibawa di keadaan saat ini.
Ini menjadi semakin menarik buatmu, karena kamu enggak pernah meminta atau menfokuskan ke satu hal ini. Namun, hati dan intuisimu tidak bisa denial, ada sesuatu halus yang semakin mengarahkan untuk kamu bisa mengenalinya. Namun, percayakah? Terkadang intensitas emosi itu bisa muncul sebagai wujud merasakan bagian luka-lukanya atau perasaan dari orang itu kepada kita. Iya, lagi-lagi entah hanya perasaan atau intuisi yang sedang mencari celah jalannya di kepala. Samar, meminta untuk divalidasi.
Katanya, ruh yang sudah saling bertemu di alam jiwa, jika keduanya dipertemukan lagi di dunia ini akan merasakan mudah untuk saling mengenali dan merasakan kenyamanan. Saya sangat menyukai kalimat ini, karena sejak dulu saya begitu penasaran dengan cara apa saya bisa bertemu dengan pasangan hidup nantinya? Apalagi ini udah bukan sekadar mencari pasangan, karena entah kenapa dari dulu kecil saya selalu merasa di luar sana ada yang sedang menunggu atau mencari saya. Dan saya juga menunggu hal yang sama untuk sebuah pertemuan. Saya juga kerap memimpikan seseorang yang sosoknya abstrak, tidak pernah jelas wajahnya seperti apa, tapi emosinya seperti rasa rindu yang sudah dinantikan kehadirannya sejak lama.
Apakah bisa kita sebut pasangan jiwa? Awamku dulu menyebut belahan jiwa mungkin enggak pernah benar-benar memahami seperti apa, tapi selalu ada keyakinan dalam hati untuk bertemu seseorang yang mana emosi itu sudah mendalam. Bahkan sebelum saya dipertemukan dengan sosoknya. Pernah juga terlintas, bagaimana cara saya bisa berdamai jika kehilangan orang ini nantinya? Aneh banget, ketemu aja belum tapi diri udah bikin skenario keterpisahan karena mungkin berani mencintai juga butuh keberanian buat melepaskan. Entah itu buat selamanya karena terpisah dunia, atau memang sebenarnya ini bagian melatih diri buat gak terlalu merasa mengikat pada hal-hal yang fana.
Kalau di Jepang, kita kenal konsep itu namanya red string theory. Ada benang merah yang akan selalu mengikat dua jiwa yang enggak pernah bisa terlepas. Jika waktunya tiba, enggak peduli benang itu sebelumnya pernah meregang seberapa jauhnya, maka akan saling bertemu. Iya, saya juga baru tahu konsep itu belakangan ini. Enggak peduli, benar atau enggak, yang saya tau, tanpa adanya konsep itu lebih dulu, kenyataannya saya mengalami hal itu. Teori hanya sebuah olah pemikiran manusia yang dicari sebagai bentuk validasi. Iya, setidaknya itu sedikit melegakan karena seringnya manusia membutuhkan alasan. Padahal, manusia bumi hanya diberikan pengalaman untuk merasakan dan belajar buat semakin berkesadaran.
Balik lagi soal keterhubungan jiwa ini. Sampai di suatu titik saya merasakan, wah kayaknya ini berat banget? Saya belum pernah diberikan pengalaman buat merasakan sedalam ini. Kalau orang jatuh cinta itu yang muncul perasaan senang, ini justru yang saya rasakan berawal dengan merasakan kesedihan mendalam yang tanpa sebab. Sampai saya menyadari kalau ujian paling menyakitkan saya sebelumnya kayak enggak ada apa-apanya. Gimana bisa dikasih perasaan kesedihan mendalam buat seseorang yang kenyataannya kita belum pernah kenal orang itu secara personal? Bahkan jarang ada interaksi. Ini semacam proses peruntuhan ego dan pelepasan kemelekatan dalam proses mencintai tanpa syarat.
Sebenarnya mungkin kalian akan bilang, coba aja perjelas dengan orangnya langsung?
Hei, ini bukan sekadar perasaan tertarik ke lawan jenis. Orang lain akan menganggap ini aneh dan di luar nalar. Enggak semudah itu, lihat dulu konteks dan karakter manusianya gimana. Banyak banget tantangannya, sampai enggak ngerti lagi gimana cara mengendalikan ini karena bisa kapan pun emosi itu hadir menyerang dan sampai menguras energi. Tanpa validasi, tanpa komunikasi, cuma bisa dirasakan sendiri. Mungkin nyaris gila. Tapi, ketika mereda, saya seperti lupa udah mengalami apa. Kadang tenang, kadang bergemuruh, kadang terasa begitu menyakitkan karena mungkin perasaan ini belum bisa dikonfirmasi. Atau ego manusia semata yang butuh pengakuan? kepemilikan?
Tapi saya enggak ngerasa sendirian. Saya termasuk yang merasakan gimana cara semesta berinteraksi dengan kita, saat menjadi perantara petunjuk-Nya. Dalam perjalanan ini banyak pengalaman sinkronitas yang saya temukan. Saya enggak hanya diam tapi saya juga enggak mengejar jawaban untuk mencari tahu apa yang sebenarnya saya alami. Mengalir, ya petunjuk-petunjuk itu yang berdatangan sendiri seiring perjalanan ini.
Ada satu momen, di mana saya benar-benar merasakan lelah karena terkuras dengan serangan emosi intens ini. Saya merasakan emosi sedih itu meluap sangat dalam, saya merasakan apa yang dia rasakan dari jarak jauh. Saya merasa terpanggil, seperti ada emosi kerinduan yang menyakitkan. Mungkin kalian enggak akan percaya, tanpa interaksi, kenapa bisa merasakan energi orang terkait? Bahkan mengalirkan air mata seperti jalan satu-satunya yang dikenali buat merilis perasaan abstrak yang saat itu saya enggak ngerti. Sampai ada titik di saat perasaan sakit itu muncul lebih dalam, "sepertinya saya telah terjatuh," saya menyerahkan diri. "Apakah benar, kau juga?"
Jadi, kita namakan untuk perasaan kali ini apa? Koneksi jiwa? Apakah sakitnya kelak bertransformasi menjadi jalan penyembuhan? Apakah ini sebagai katalis pembersihan luka untuk menyiapkan perasaan yang lebih utuh? Sampai hari ini, hal itu masih saya rasakan dalam suatu perjumpaan berulang. Jangan tanya gimana dan kenapa bisa terjadi, selalu ada garis tangan-Nya yang Mahamengetahui.
Label:
Soul Connection
Penikmat langit pagi dan senja, bunga matahari dan warna toska.
Suka ngobrol dengan semesta saat dalam perjalanan, terutama jadi sibuk mengamati sekitar.
Teori konspirasi adalah hal yang tidak begitu dia sukai, tapi menjadi terlalu penasaran untuk sekadar dilewati.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar